Para
ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan tasawuf disebabkan perbedaaan dalam
memahami asal kata tasawuf itu sendiri. Ada yang berpendapat bahwa tasawuf
berasal dari kata shuffah (pelana kuda) karena dinisbatkan kepada ahlus shuffah
yakni para sahabat Nabi yang mempergunakan seluruh hidupnya janya kepada Allah.
Merek tinggal disamping masjid Nabi dan berbantalkan pelana kuda (shuffah). Ada juga yang berpendapat
bahwa tasawuf berasal dari kata shuf (wol
kasar) karena dinisbatkan kepada para wali dan orang-orang yang dengan
sengaja berpola hidup sangan sederhana dengan berpakaian kulit binatang sebagai
simbol kesederhanaan hidup. Tokoh yang pertama kali digelari dengan kata al-shufi adalah Abu Hasyim al-kufi
al-shufi (267H) seorang ahli tasawuf yang sangat sederhana dengan selalu
memakai baju dari wol kasar (shuf).
Adapun menurut
Syekh Ahmad ibnu Athaillah arti tasawuf dan asal katanya secara bahasa
disebutkan sebagai berikut :
- Berasal dari kata shuffah = segolongan sahabat-sahabat nabi yang menyisihkan dirinya diserambi masjid Nabawi karena diserambi itu para sahabat selalu duduk bersama-sama Nabi Muhammad SAW untuk mendengarkan fatwa-fatwa beliau untuk disampaikan kepada oranglain yang belum menerima fatwa itu
- Berasal dari kata shufatun = bulu binatang, sebab orang yang memasuki tasawuf itu memakai baju dari buku binatang dan tidak senang memakai pakaian yang indah-indah sebagaimana yang dipakai oleh kebanyakan orang
- Berasal dari kata suuf al shufa = bulu yang terlembut, yang dimaksud bahwa orang yang sufi itu bersifat lembut-lembut
- Berasal dari kata safa = suci bersih, karena orang-orang yang mengamalkan tasawuf itu selalu bersih lahir batin dan selalu meninggalkan perbuatan yang kotor yang dapat menyebabkan kemurkaan Allah.
Berdasarkan pendapat para ahli
tasawuf tentang arti tasawuf menurut bahasa tersebut dapatlah diambil
kesimpulan bahwa nama-nama istilah menurut bahasa adalah arti simbolik yang
bermakna kebersihan dan kesucian untuk senantiasa berhubungan dengan Allah
untuk mencapai tingkat ma’rifat dan menjadi manusia yang berkualitas (insan
kamil).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar